Lesson Study sebagai Classroom Action Research (Penelitian Tindakan Kelas/PTK)

Lesson Study sebagai Classroom Action Research (Penelitian Tindakan Kelas/PTK)

 

Lesson study sebagai suatu riset meliputi tiga tahapan utama yakni tahap perencanaan (planning), tahap implementasi (implementing/do), tahap refleksi (reflecting/see). Dari tahapan tersebut, jika mengacu pada PTK menurut Sagor (1992), maka pelaku lesson study bekerja pada tiga tahapan tindakan, yakni: (1) memprakarsai tindakan (initiating action), misalnya ingin mengadopsi suatu gagasan atau ingin menerapkan suatu strategi baru, (2) monitoring dan membenahi tindakan (monitoring and adjusting action), dan (3) mengevaluasi tindakan (evaluation action) untuk menyiapkan laporan final dari program secara lengkap. Oleh karena itu, dari sudut inquiry maka kegiatan untuk memprakarsai tindakan biasanya berupa kegiatan mencari informasi yang akan membantu dalam memahami dan memecahkan masalah sehingga merupakan research for action. Selama pelaksanaan dilakukan monitoring dan pembenahan tindakan yang lebih berkait dengan apa yang dapat dilakukan sehingga merupakan research in action. Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi akhir untuk mengevaluasi tindakan yang lebih berfokus untuk mengevaluasi kinerja yang telah dilakukan sehingga merupakan research of action.

 

Agar dapat dibuat perencanaan yang baik pada tahap research for action, pemrakarsa tindakan harus melakukan refleksi awal yang berbasis pada kondisi awal dan digalii melalui need asesment. Dalam tahap ini diperoleh akar masalah yang akan diatasi melalui lesson study sehingga hasil need assessment, sebagai deskripsi semua kondisi awal. Dalam hal yang demikian, dapat dijadikan dasar placement evaluation dengan tujuan untuk menetapkan program agar sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Dari placement evaluation itulah dapat dipahami dengan pasti posisi

masing-masing pihak yang berkolaborasi, baik dosen, guru, maupun siswa berkait dengan akar masalah yang akan dipecahkan.

 

 Pada tahap reserch in action, dilakukan kegiatan monitoring untuk memperoleh deskripsi maupun hubungan sebab akibat yang terjadi dengan adanya implementasi tindakan. Pada tahap ini, data hasil monitoring digunakan untuk mengambil kepuitusan seberapa jauh perbaikan/pembenahan perencanaan tindakan dalam setiap siklus harus dilakukan. Oleh karena itu, keputusan yang diambil adalah pada tataran formative evaluation.

 

Pada tahap research of action, kegiatan monitoring dilakukan untuk memperoleh deskripsi, hubungan sebab akibat yang berkait dengan implementasi program secara keseluruhan (seluruh siklus), dan seberapa jauh keterlibatan pihak-pihak yang telah berkolaborasi. Dengan demikian, keputusan atas dasar hasil monitoring bertujuan untuk menetapkan efektivitas dan efisiensi program lesson study. Dalam tahapan ini, kedudukan evaluasi program adalah sebagai sumative evaluation.

 

 1. Macam Lesson Study

 

Lesson Study sebagai penelitian tindakan kelas dapat dilaksanakan dalam beberapa macam. Mengacu pendapat Kemmis dan McTaggart (1997) ada tiga macam PTK, yakni PTK yang dilakukan secara individual, PTK yang dilakukan secara kolaboratif, dan PTK yang dilakukan secara kelembagaan.

 

 a. Lesson Study dalam bentuk PTK yang Dilakukan Secara Individual

Lesson study dalam PTK yang dilakukan secara individual, seorang guru/dosen yang melakukan PTK berkedudukan sebagai peneliti sekaligus sebagai praktisi. Sebagai peneliti, guru/dosen harus mampu bekerja pada jalur penelitiannya, yakni jalur menuju perbaikan dengan langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan dalam arti guru/dosen yang bersangkutan harus menjamin kesahihan data yang dihimpun sehingga mendukung objektivitas penelitian yang dilakukan serta ketepatan dalam menginterpretasi dan menarik kesimpulan hasil penelitian. Untuk itu dalam PTK yang dilakukan secara individual harus didukung oleh critical friend.

 

Critical friend yang tepat sangat membantu saat peneliti melakukan refleksi. Selain itu, critical friend juga dapat sebagai observer saat peneliti melakukan praktik pembelajaran sebagai praktisi. Bila tanpa critical friend ada yang mempertanyakan objektivitas penelitiannya.

 

Critical friend dipilih sesuai dengan keahlian atau kebutuhan. Oleh karena itu, critical friend dapat berganti-ganti orang sepanjang penggantian fungsional untuk membantu keberhasilan program lesson study yang dilaksanakan. Jika seorang pelaksana program lesson study sudah senior atau sudah terbiasa melakukan dan didukung sarana prasarana untuk peliputan data yang memadai seperti alat perekam dalam bentuk audio visual, maka dapat saja melibatkan critical fiend untuk mengkritisi hasil-hasil yang dilaksanakan setelah ia menganalisis hasil perekaman.

Dengan demikian, critical friend hanya dilibatkan pada saat refleksi dan sekaligus mengkritisi lesson study yang dilakukan. Bahkan, diharapkan critical friend juga mau mengadop bila hasilnya dinilai positif. Sebaliknya, bagi pemula, maka dapat melibatkan critical friend di setiap tahapan lesson study yang dilaksanakan, mulai dari pemilihan permasalahan, perencanaan, pelaksanaan, refleksi, sampai pada pelaporan.

 

 b. Lesson Study berbasis PTK yang Dilakukan Secara Kolaboratif

PTK dalam bentuk kolaboratif/kelompok melibatkan sekelompok guru/dosen, sehingga ada guru/dosen sebagai peneliti dan guru/dosen sebagai praktisi. Dapat pula kolaborasi dilakukan antara guru dengan dosen. Dalam kolaborasi antara guru dan dosen, permasalahan digali bersama di lapangan, dan dosen dapat sebagai inisiator untuk menawarkan pemecahan atas dasar topik area yang dipilih. Dalam hal ini validitas penelitian lebih terjamin karena ada posisi sebagai peneliti dan posisi sebagai praktisi.

 

c. Lesson Study berbasis PTK yang Dilakukan Secara Kelembagaan

Lesson study yang dilakukan dalam bentuk PTK individual/perorangan ataupun dalam bentuk PTK yang dilakukan secara kolaboratif/kelompok memiliki skop terbatas atau berfokus pada topik area yag sempit. Misalnya, penelitian hanya berfokus pada hubungan antara proses pembelajaran dan hasil yang ingin dicapai.

 

PTK yang dilakukan secara kelembagaan memiliki skop penelitian yang lebih luas dan ditujukan untuk perbaikan lembaga. Dengan demikian, dalam satu penelitian dapat ditetapkan beberapa topik area. Dalam PTK yang dilakukan secara kelembagaanpun melibatkan kolaborasi dapat dibangun secara luas dengan melibatkan banyak pihak yang terkait. Untuk sekolah, dapat melibatkan siswa, guru, karyawan, orang tua, kepala sekolah, dinas, dan dosen perguruan tinggi. Untuk perguruan tinggi, dapat melibatkan mahasiswa, dosen, karyawan, pihak pengguna,

dan stakeholder ataupun yang lainnya.

 

Tujuan utama PTK yang dilakukan secara kelembagaan adalah untuk memajukan lembaga. Oleh karena itu, dapat dibuat kelompok-kelompok peneliti menurut topik-topik area yang relevan dengan kelompok yang bersangkutan. Menurut Kemmis dan McTaggart (1997) dalam PTK bentuk ini kelompok-kelompok kecil yang ada di dalamnya dapat melakukan kegiatan eksperimen untuk menguji beberapa inovasi untuk permasalahan yang ada.

 

Kata kunci: lesson study, penelitian tindakan kelas, action research, ptk, Kemmis, McTaggart

3 responses to “Lesson Study sebagai Classroom Action Research (Penelitian Tindakan Kelas/PTK)

  1. Menurut saya lesson study itu mirip dengan PTK tetapi pemahaman bahwa lesson study dapat dilakukan secara individual itu tidak benar. Ma’af, seharusnya Anda banyak membaca literatur mengenai lesson study yang dilakukan di negara asalnya yaitu Jepang.

  2. perkenalkan saya alfian,

    saya cukup tertarik pada dunia pendidikan,
    dan saya sering menjadikan tulisan saudara sebagai literatur atw refrensi bagi diri saya.

    ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan,
    1. menurut saudara indikator apasajakah yang harus saya pakai apabila saya ingin mengukur efektivitas penggunaan PTK/lesson study sbg salah satu strategi penerapan strategi pembelajaran dikelas?
    2.apakah memungkinkah PTK/lesson utk mengatasi permasalahan2 yg terjadi pada pendidikan luar biasa?
    3.apabila saya ingin mengadakan pengabdian masyarakat mengenai trainning pada tutor/guru SLB, materi apa sajakah yang harus saya berikan?

    mohon bantuannya,
    saya hanya manusia biasa, yang serba berkekurangan.
    terus terang saya baru mulai untuk mendalami dunia pendidikan…

    terima kasih…

  3. sebagai tambahan saja, silahkan kunjungi http://www.sisttems.or.id

    situs resmi kerjasama teknis antara DEPDIKNAS dan JICA untuk program SISTTEMS.

    Program SISTTEMS (Strengthening of In-Service Training for Teacher of Mathematic and Science at Junior Secondary School) dilaksanakan di 3 Kabupaten di Indonesia sebagai tindak lanjut perjanjian kerja sama ( MoU) antara Departemen Pendidikan Nasional dengan pihak JICA (Japan International Cooperation Agency). Ketiga Kabupaten terpilih (piloting) yaitu Sumedang di Jawa Barat, Bantul di DIY dan Pasuruan di Jawa Timur melaksanakan Program Penguatan Pelatihan dalam Masa Jabatan bagi Guru Matematikan dan IPA pada tingkat SMP (SISTTEMS) dengan menerapkan konsep Lesson Study berbasis MGMP.

    Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s