LESSON STUDY – Latar Belakang

LESSON STUDY – Latar Belakang

 

Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah banyak faktor yang  harus diperhatikan seperti: pendidik (guru), siswa, sarana dan prasarana, laboratorium dan kelengkapannya, lingkungan, dan manajemennya. Namun pada kesempatan ini hanya akan dilihat dari segi pendidik (guru) dan siswa yang merupakan dua komponen terpenting, yang berperan dalam peningkatan kualitas pembelajaran, dengan tidak mengesampingkan komponen atau faktor-faktor lainnya.

 

Dalam era sentralisasi pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran dari segi pendidik (guru) biasanya dilakukan dengan kegiatan inservice teacher training yang berupa penyetaraan, pelatihan, penataran, seminar atau lokakarya, atau kegiatan-kegiatan lain yang sejenis. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, diharapkan guru dapat menerapkan hasil training tersebut dalam pembelajaran di kelas. Kegiatan-kegiatan tersebut telah banyak dilaksanakan dengan biaya yang tidak kecil yang dikeluarkan oleh pemerintah, baik yang berasal dari rupiah murni maupun dari dana pinjaman luar negeri. Banyak atau sedikit, pasti ada sumbangan kegiatan tersebut dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Tetapi, kebanyakan setelah kegiatan inservice teacher training, hasil monitoring yang mempersoalkan apakah ada peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh para peserta tidak tampak nyata hasilnya. Padahal pada dasarnya, hakikat pelaksanaan kegiatan inservice teacher training selain meningkatkan kualitas guru, yang lebih penting adalah guru peserta inservice teacher training mampu menerapkan hasil training dalam proses pembelajaran di kelasnya dan mengimbaskan kepada rekan-rekan guru di sekolahnya atau di kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Namun masih banyak guru setelah mengikuti kegiatan inservice teacher training, mereka tidak mengubah cara pembelajaran untuk para siswanya. Hal ini sangat dimungkinkan karena dalam kegiatan training tersebut tidak diberikan contoh kongkret cara pembelajarannya di kelas nyata.

 

Mulai tahun 2002, Indonesia menerapkan sistem desentralisasi pendidikan. Apakah dalam era desentralisasi ini strategi peningkatan kualitas pembelajaran dari segi guru akan tetap sama seperti dalam era sentralisasi? Dalam era desentralisasi pendidikan, posisi guru berada pada titik sentral dengan tanggung jawab yang luas dan menjadi tumpuan vital dalam pengembangan pembelajaran yang dilakukan. Guru bukan lagi sebagai pelaksana pengajaran seperti yang tertulis dalam Garis garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan di masa lalu. Dalam era desentralisasi pendidikan, guru harus menyusun sendiri jabaran kurikulum. Kurikulum sekarang sangat sederhana, secara garis besar hanya berisi standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaiannya. Guru harus menjabarkannya menjadi silabus (garis-garis besar program pengajaran yang lebih rinci), yang sesuai dengan karakteristik siswa, kemampuan sekolah, dan lingkungannya. Pada era desentralisasi ini, guru harus lebih aktif mengambil prakarsa sendiri, karena tidak akan ada lagi intervensi dari luar yang harus dipatuhi secara mutlak. Bukan karena sesuatu yang datang dari luar dianggap pasti tidak sesuai. Tetapi yang lebih penting adalah bahwa guru lebih leluasa berperan sebagai seorang profesional. Kini guru ditantang tampil dengan kemampuan yang terbina dari dalam dirinya, guru harus mampu membuktikan kemampuan profesionalnya untuk menerima amanah sebagai pendidik yang tangguh. Secara singkat, jika pada era sentralisasi pendidikan, guru sebagai pelaksana dari apa yang telah dipikirkan oleh para birokrat, tapi kini guru ditantang untuk berfikir logis, kritis, kreatif, dan refleksif dalam meningkatkan mutu pembelajarannya, dan melaksanakan hasil pemikirannya ini dalam pembelajaran di kelas.

 

Bergantinya sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi pendidikan secara mendadak seperti saat ini tidak akan serta merta mengubah pola pikir guru yang semula sebagai pelaksana pengajaran langsung menjadi pemrakarsa pembelajaran, seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi beragamnya kualitas dan profesionalitas guru, dari guru yang bermotivasi peribadahan hingga karena keterpaksaan, dari guru yang selalu menggerutu hingga yang senantiasa tawakkal. Untuk itu perlu tersedianya pendukung yang memadai dan proses yang panjang dalam program pendidikan dan pembinaan guru. Perlu adanya gerakan dari bawah, dari para guru untuk mengidentifikasi kebutuhan dirinya dalam meningkatkan kompetensinya, agar dapat mengembangkan mutu pembelajaran pada siswanya. Bertolak dari pandangan tersebut, ditawarkan suatu sistem pembinaan guru melalui lesson study dalam rangka peningkatan keprofesionalan guru.

 

Kata kunci: latar belakang, profesionalisme guru

About these ads

2 responses to “LESSON STUDY – Latar Belakang

  1. di SDN Karangpawulang 1 Bandung lesson study telah dilakukan 1 tahun yg , makasih telah bagi informasi !, manfaatnya guru pada PD,

  2. Pingback: TUGAS STRATEGI BELAJAR MENGAJAR “INOVASI PEMBELAJARAN” « Agus Putrawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s